Diunduh dari Notes Facebook Kotex “Dunia Cewe” asuhan dr.Ryan
– EDISI AGUSTUS 2010 – MINGGU 1
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) sebelum
kehamilan berusia 20 minggu yang berakibat kepada kematian janin. Ada dua klasifikasi
abortus yakni ;
- Spontaneous abortion: gugur kandungan yang disebabkan oleh trauma kecelakaan
atau sebab-sebab alami
- Induced abortion atau procured abortion: pengguguran kandungan yang disengaja.
Termasuk di dalamnya adalah:
- Therapeutic abortion: pengguguran yang dilakukan karena kehamilan tersebut
mengancam kesehatan jasmani atau rohani sang ibu, terkadang dilakukan sesudah pemerkosaan.
- Eugenic abortion: pengguguran yang dilakukan terhadap janin yang cacat.
- Elective abortion: pengguguran yang dilakukan untuk alasan-alasan lain.
Aborsi yang dilakukan secara sengaja tanpa ada indikasi medis atau alasan kesehatan
yang jelas terlebih tidak di tangani oleh medis maka akan memiliki resiko yang tinggi
terhadap kesehatan maupun keselamatan seorang perempuan. Tidak benar jika dikatakan
bahwa jika seorang perempuan melakukan aborsi ia tidak merasakan apa-apa dan langsung
boleh pulang. Ini adalah informasi yang sangat menyesatkan bagi setiap perempuan,
terutama mereka yang sedang kebingungan karena tidak menginginkan kehamilan yang
sudah terjadi.
Ada 2 macam resiko kesehatan terhadap perempuan yang akan melakukan aborsi :
- Resiko kesehatan dan keselamatan secara fisik
- Resiko gangguan psikologis
Resiko kesehatan dan keselamatan fisik
Pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada beberapa resiko yang
akan dihadapi seorang perempuan, diantaranya yakni :
- Kematian mendadak karena pendarahan hebat
- Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
- Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan
- Rahim yang sobek
- Kerusakan leher rahim yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya
- Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)
- Kanker indung telur (Ovarian Cancer)
- Kanker leher rahim (Cervical Cancer)
- Kanker hati (Liver Cancer)
- Kelainan pada placenta yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya
- Meningkatkan kemungkinan terjadinya pendarahan hebat pada kehamilan berikutnya
- Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy)
- Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)
- Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)
Resiko kesehatan mental
Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan
dan keselamatan seorang perempuan secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang
sangat hebat terhadap keadaan mentalnya. Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi
sebagai Post-Abortion Syndrome (Sindrom Paska-Aborsi) atau PAS.
Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami hal-hal seperti
berikut ini:
- Kehilangan harga diri (82%)
- Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%)
- Ingin melakukan bunuh diri
- Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%)
- Berteriak-teriak histeris (51%)
- Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%)
Diluar hal-hal tersebut diatas para wanita yang melakukan aborsi akan dipenuhi perasaan
bersalah yang tidak hilang selama bertahun-tahun dalam hidupnya.